Ini adalah cerita tentang seorang siswa yang Bingung dalam menentukan Pilihan Jurusan di Perguruan Tinggi nanti bahkan masih bingung harus memulai apa dan darimana!
Hari ini, saat udara sedang terasa panas-panasnya… saat air kopi digelas sudah tinggal setengah, dan saat jarum jam di dinding menunjuk tepat di angka 2… (awas tidak boleh dibayangkan ya
…
Datang menghadap saya seorang siswa kelas XII SMA IPA. Begitu dipersilahkan duduk, Ama (nama samaran) langsung berceloteh panjang lebar mengenai berbagai persoalan yang dihadapinya (dan mungkin juga dihadapi anak-anak lain di sekitar kita)… Inti dari apa yang Ama sampaikan adalah tentang kekecewaanya yang mendalam terhadap dirinya sendiri, aneh khan?
Lalu mengapa Ama bisa begitu kecewa terhadap dirinya sendiri? Pertama, Ama merasa bahwa dia sudah salah sejak awal penentuan jurusan di SMA, dia juga menganggap dirinya bodoh, tidak mampu, tidak bisa fokus, sulit belajar, dan sedang tidak punya arah tujuan yang jelas kemana akan melangkah dan harus darimana ia memulai langkahnya.
“Padahal kang, dulu waktu saya SMP, saya ini termasuk anak yang disayang semua guru, berprestasi di kelas bahkan sering memeangkan kejuaraan sehingga menjadi kebanggaan sekolah!”
“Tapi sekarang ama bener-bener Down kang!, semua orang seolah-olah sedang menghakimi Ama dan segala kesialan datang bertubi-tubi menimpa Ama!”
Terus … (sy mencoba menimpali)
“Ya itu tadi kang, Dulu Ibu Ama pengen ama masuk IPA padahal Ama bener2 gak suka yang namanya hitungan kang… tapi Ama coba dan berhasil masuk jurusan IPA. Sekarang Ibu Ama pengen Ama masuk PTN Favorit, ya kalau gak UI, UNPAD. Jurusannya Ilmu Komunikasi (dengan syarat setelah lulus harus mau kuliah lagi S2) atau Jurusan Kedokteran!”
Ama sendiri minatnya kemana?
“Jurusan Sastra Kang” Sahut Ama sambil memberikan hasil Psikotest terakhir yang pernah diikutinya kepada saya.
Saya mencoba membaca dan menganalisa hasil Psikotestnya dan menarik beberapa kesimpulan sehubungan dengan potensi Ama. Dari hasil psikotestnya memang Ama tidak begitu menonjol dalam hal kemampuan Kuantitatif nya sedangkan skor untuk kemampuan Verbal dan Penalarannya cukup menonjol. Disitu juga jelas tertulis saran dari psikolog bahwa Ama disarankan memilih Jurusan Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) atau yang berhubungan dengan Bahasa/Sastra. Sy kira sudah tepat saran psikolog ini.
“Kamu Ambil Sastra Inggris aja Ma, gmn? tanya saya.
“Tapi Kang, entar kerjanya gimana? Ama gak mau jadi guru!, Ama juga takut kalau prospek kerjanya terbatas!, Ama juga gak yakin kalau Ama bisa diterima di UNPAD!”
Saya mencoba menjelaskan kepada Ama mengenai prospek beberapa Jurusan yang sekiranya tepat untuk Ama. Beberapa jurusan tersebut antara lain Ilmu Komunikasi, Hukum, Psikologi, dan Sastra (disarankan Sastra Inggris)… boleh sastra lain tapi harus jelas tujuanya misalnya Sastra Perancis karena nanti mau mengikuti jejak usaha kakak yang sudah sukses di Perancis, dsj. he3x… ya khan? Kemudian untuk memotivasi Ama saya juga bercerita mengenai si pintar dan si bodoh… “Di dunia ini tidak ada yang bodoh, karena semua terlahir jenius, terlahir dengan kemampuan otak yang sama, hanya saja mungkin kita kurang rajin sehingga kita kalah bersaing!”
“Iya kang, tapi Ama gak yakin bisa masuk Negeri!”, kilah Ama.
“Masuk Negeri bukan suatu ukuran orang dapat Sukses dalam kehidupannya. Masalah tempat kuliah mau di Negeri atau di Swasta sekalipun akan berpulang kepada diri kita sendiri. Kuliah di Negeri pun kalau asal-asalan, cuman sekedar datang dan pulang di jadwal kuliah, gak akan memberikan nilai tambah apa-apa. Menurut pendapat Akang, Orang yang sukses dalam studi di Perguruan Tinggi adalah; diterima di Jurusan yang prospektif sesuai minat, bakat dan kemampuan, dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu, setelah lulus dapat berkontribusi di masyarakat (dapat menciptakan lapangan kerja sendiri atau dapat bersaing dalam dunia kerja). Semua itu tentu tidak dapat dicapai dengan mudah, perlu ikhtiar, perlu pengorbanan! Akang sarankan setelah jadi Mahasiswa nanti jangan menjadi mahasiswa pasif, tapi aktif dan kreatiflah. Cobalah membangun network, membangun koneksi; misalnya sering berkomunikasi dengan Dosen! Bila perlu bantulah pekerjaanya, karena biasanya Dosen banyak kerjaan sampingan atau proyek-an nya gitu he3x nah kan kalau udah gitu minimal kita dapat beberapa untung, misalnya; a. dapat nilai yang baik, b. dapat koneksi dan menjadi tau cara mengaplikasikan ilmu yang dipelajari dalam kehidupan nyata, c. dengan koneksi dijamin gak akan susah mencari kerja saat udah lulus! ”
Bentar… Akang minum kopi dulu, cape dech pidato terus
“Masalahnya sekarang untuk Ama adalah : Ama harus Fokus pada tujuan Akhir (“begining from the end” dan Ama harus dapat meminimalisasi pengaruh/efek dari semua masalah yang sekarang dihadapi Ama mengingat minimal ada 2 Gerbang yang menanti untuk dilewati untuk dapat meraih semua kesuksesan tersebut. Gerbang pertama adalah Gerbang UN! Kenapa ? karena jika Ama tidak lulus UN tahun ini maka Ama tidak dapat melanjutkan Studi kemanapun bahkan ke PTS sekalipun! Ama harus dapat Surat Tanda Lulus dulu dengan mengikuti Ujian Persamaan misalnya (wah berarti nanti STL nya bukan dari Sekolah yang udah diikuti selama 3 tahun ini donk…! sayang juga ya!) Gerbang kedua adalah Gerbang SPMB! (dan atau ujian/seleksi masuk ke Perguruan Tinggi lainnya) Kenapa? Ah inimah udah jelas n gak usah dijelasin lagi khan?”
“Ok, so sekarang mau mulai dari mana? Coba begini Ama :
1. Rubah cara pandang; Berfikir Positif-lah,
2. Tetapkan Tujuan Akhir & Buat skala prioritas (misalnya Saya harus lulus UN dengaan nilai maksimal dan Saya harus membuktikan bahwa Saya tidak seperti yang orang kira dimana “Saya Juga Bisa Diterima di Jurusan Sastra Inggris UNPAD”),
3. Fokus pada tugas dan Tujuan; Ingat profesi Ama sebagai Pelajar, tugas Ama adalah belajar (lho kok profesi pelajar kok porsi waktunya malah lebih banyak maen internet he3x..)
4. Inventarisir permasalahan yang ada, cari solusinya atau bahkan tunda permasalahan tersebut untuk diselesaikan nanti setelah kedua gerbang dapat dilewati, sebaiknya buang satu per satu dari daftar untuk masalah-masalah yang memang tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Yang terpenting adalah BAGAIMANA MENGAMBIL HIKMAH dari setiap permasalahan yang mendera kita sehingga dapat MENJADI ENERGI POSITIF yang mampu menggerakan emosi kita, memotivasi diri kita untuk mencapai tujuan-tujuan tadi. Misalnya saja sekarang Ama lagi Down karena dipanggil guru BK gara-gara Ama dianggap sering bolos (padahal emang Ama sekarang lagi sering sakit2an), Trus Ama juga sekarang lagi dibenci oleh guru Ama yang selama ini Ama anggap sebagai guru yang paling baik ke Ama. Nah coba santai aja menyikapinya, pertama selama Ama memang gak sengaja membolos maka coba jujur bercerita kepada Guru BK tsb. apa masalah sebenarnya dan berhentilah menyalahkan diri sendiri, belajar dan perbaikilah sehingga masalah tidak terulang kembali. Kalaupun terus2an dicap pembolos dan dipanggil terus BK (gak mungkin kaleee!) anggap aja itu sebagai bukti perhatian beliau kepada kita, bilang aja…”Alhamdulillah gua sering dipanggil ke ruang BK, Ibu itu emang perhatian banget ya sama Gua” nah that’s better khan? Kedua untuk masalah guru yang berubah menjadi benci, akang kira itu cuma perasaan Ama aja. Gak mungkin guru membenci muridnya, coba cek flashback adakah sikap kita, perbuatan kita, kata-kata atau hal lainnya yang membuatnya seperti itu. Bila perlu mintalah bantuan orang ketiga untuk menyelesaikan ini, misalnya melalui Guru BK tadi! Pasti dibantu! Dan sebenarnya sih, masalah kedua ini jangan terlalu difikirkan berlebihan; akang yakin ini perasaan Ama saja dan Ama harus tau Ibu Guru juga manusia, kali aja lagi banyak masalah juga toh? so Khusnudzan (berbaik sangka) aza Ok? Cape lagi bawa2 masalah tiap hari ya gak pembaca? O ya untuk masalah perbedaan keinginan antara Orangtua dengan Ama silahkan Ama ajak Orangtua Ama untuk berkonsultasi dengan penyelenggara psikotes atau dengan Guru BK di sekolah atau ajak bertemu akang untuk berdiskusi (tapi ketemunya di McD ya he3x….)
Duh dah malem neh… terusin gak ya? tanggung deh diterusin aja ya mudah2n yang baca gak BT karena kepanjangan!
5. Buat Skedul belajar dan konsultasi untuk mencapai semua tujuan-tujuan akhir tadi (lulus UN dan lulus SPMB)! meliputi ; jadwal belajar mandiri di rumah (misal berapa soal latihan UN tahun sebelumnya yang harus dikerjakan setiap hari?, dll.) Mulailah sejak sekarang, mulai hari ini juga! Ingat Waktu menuju UN tinggal 3 bulan kurang dan menuju SPMB 4,5 bulanan lagi! Sedikit tips cara belajar di siswa waktu yang tinggal sedikit ini adalah dengan “BELAJAR DARI SOAL ke TEORI” jangan coba2 menumpuk buku2 sejak kelas 1 s.d. kelas 3 SMA karena mungkin tingginya aja bisa menembus atap, baru liat buku nya aja udah mau pingsan khan? Apalagi membaca nya he3x… PELAJARILAH SOAL-SOAL UN/SPMB tahun2 sebelumnya, minimal 5-7 tahun sebelumnya! Belilah buku2 kumpulan soal2 yang ada PEMBAHASANNYA dari penerbit/pengarang yang bisa dipercaya. KERJAKAN setiap soal sampai difahami benar, ingat jangan pasang target untuk QUANTITY tapi QUALITY nya… bukanlama belajarnya tapi efektifitas dan kualitas belajarnya, getoh Ama…
6. Tes Kemampuan & Kesiapan udah sejauhmana kesiapan kita menghadapi ujian2 tersebut? nah beruntunglah Ama karena sekarang2 ini lagi ramai orang/sekolah/bimbel yang menawarkan Try-Out UN! Apa salahnya diikuti, evaluasi terus nilainya, jika ada yang masih kurang di mata pelajaran/pokok bahasan tertentu maka tambahlah porsi belajarnya untuk materi2 yang kurang tersebut!
7. Jaga Konsisi jangan sampai sakit pada saatnya Ujian, belajar itu penting tapi kalau berlebihan bisa bikin sakit juga loh! Jangan merubah kebiasaan rutin misalnya mentang2 mo Ujian trus sblm berangkat minum Vitamin C Dosis tinggi padahal biasanya jg nggak…. nah gmn kalo diare saat ujian ? Apa bisa keluar tuh yg udah dihapal di otak? hmmm yang keluar malah keringat dingin terus khan, udah gitu ganggu peserta lain lagi karena keseringan keluar masuk ruangan ujian!
8. Persiapan pra Ujian sejak sekarang; persiapkan perangkat/sarana pendukung Ujian (faktor teknis yang berpotensi mengakibatkan kegagalan ujian, kenali LJK, kenali cara pengisian LJK, siapkan pinsil 2B asli, dll.)
7. Berdo’a Usaha sudah, belajar udah maksimal, sekarang apalagi… Berdo’a dan meminta di do’akan kepada semua orang! Tidak ada yang tahu pasti seberapa besar kekuatan Do’a namun yang pasti Allah SWT jelas2 menyuruh manusia untuk berdo’a, meminta kepadaNya dan semoga Ama bukan termasuk orang yang sombong yang tidak pernah berdo’a kepadaNya!
8. Terakhir Tawakal! Berserah diri kepadaNya dan yakinlah bahwa Allah SWT pasti punya rencana yang terbaik untuk kita, dan kewajiban kita untuk berikhtiar sudah dilaksanakan maka apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita!
“hmmm….. iya deh pak kalau gitu makasih banyak atas saran2nya, Ama masuk kelas dulu ya!” kata ama mengakhiri pembicaraan kami.
Ok, sekian semoga cerita tadi ada manfaatnya juga untuk para pembaca blog ini.
Message from Akang :
AYO KITA SUPPORT SISWA-SISWI/PUTRA-PUTRI KITA DENGAN TULUS DAN SERIUS AGAR MEREKA BISA LEBIH FOKUS DALAM MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAPI UJIAN NASIONAL TAHUN INI ! SEMOGA MEREKA DAPAT MEMPEROLEH HASIL TERBAIK, SUKSES UN, DITERIMA DI SEKOLAH/PERGURUAN TINGGI FAVORIT YANG DICITA-CITAKAN, PADA JURUSAN YANG PROSPEKTIF SESUAI MINAT BAKAT DAN KEMAMPUANNYA!
Terima kasih, [kangadesaputra]


hehehe… jadi inget saya taun kemaren…
Sibuk setengah mampus mikirin UAN dan SPMB. Tapi jujur tiap orang punya cara yg berbeda dalam menghadapi masalah tersebut, termasuk saya,
Saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa belajar itu bukan hanya QUANTITY tapi juga harus QUALITY-nya diperhatikan.
Bagi yg mau SPMB, inget nih… Lulus SPMB bukanlah akhir perjuangan. SPMB tuh tekananannya gak sebesar pas saat kuliah loh…. *pengalaman mahasiswa baru taun pertama*
Yap… bagus nih tanggapannya, ini testi langsung dari yang udah berhasil lolos SPMB & sekarang lagi kuliah lho, emang benar, masuk di bangku kuliah, lulus SPMB hanyalah langkah kecil untuk membuka langkah2 besar kedepan… ayo para siswa bersemangatlah!
Buat Kang Purnama jangan sungkan2 n bosen2 ya ngasih kiat2 untuk adik2 kita ini… Bravo!
Siang Kang,
pilihan terakhir ada komunikasi. tapi sepengetahuan amel, komunikasi tuh banyak yg minat dan pastinya banyak pesaing dalam kerja pula (yah….emang susah cari jalan kerja yg mulus). Jadi bagaimana nih?
Wah, Amel juga punya masalah sama nih. Mirip dengan cerita, secara psikolog amel memang menonjol dibagian (terutama) verbal, seni, dan manajemen (yg terakhir kayaknya salah neh… ;p) Ntah kenapa amel susah tertarik bidang MIPA (kecuali kalau Biologi). sedangkan amel juga susah ngitung, karna tipenya emang ceroboh/gak teliti. Nah, karna udah tauk begitu, amel pula berniat mau ambil jurusan HI, Komunikasi, atau Sastra. Masalahnya guru nyaranin jangan sastra, sebab beliau sendiri lulusan sastra agak susah dapet peluang kerja, apalagi pilihan saya sastra prancis. beberapa orang menyarankan ambil sastra prancisnya d3 aj, yg utama (s1) tuh yg lain aja, kayak HI atau Komunikasi. Tapi setelah menyelidiki ttg HI, amel jd males liat kata POLITIK. uwaaaa…amel jago sih ngomong, tapi kaga jago ngomong begonoan, jadi tar kalo disuruh diplomasi susye deh…
Jawaban Akang
Begining from the end !, mulailah dari tujuan akhir. Jadi Bagaimanapun juga Amel harus berani menentukan tujuan akhir agar Amel memiliki arah dan langkah2 yang jelas untuk mencapai tujuan2 tersebut. Sebetulnya, semua jurusan itu prospek, semua universitas/PT juga prospek, hanya levelnya aja yg pasti berbeda2; salah satu kriteria pembedanya antara lain; jumlah dosen dan tingkat pendidikannya, fasilitasnya, serapan & kualitas lulusannya, dll. dan yang paling penting ” Apa dan bagaimana selama kita kuliah di jurusan & PT tersebut!” apakah cuma mengikuti kegiatan formalitas perkuliahaan gitu2 aja atau bisa menjadi mahasiswa yang lebih “kreatif” dan “berbeda”? Ini juga akan mempengaruhi prospek masa depan Amel saat lulus kuliah!
Lalu bagaimana sekiranya masih pusing menentukan pilihan?
Mungkin saran Akang lakukan langkah2 berikut ini dulu :
1. Deskripsikan ulang siapa diri kita; minat, bakat, dan potensi,
Cara terbaik lakukan Tes Bakat Skolastik.
2. Tentukan max 5 pilihan jurusan dan perguruan tinggi yang paling diminati,
3. Jawab pertanyaan ini; “mengapa memilih jurusan dan Perguruan Tinggi tersebut ?”
4. Cari info yang benar sebanyak2nya mengenai jurusan yang sudah ditetapkan; lokasi kampus; sanggup gak kuliah jauh2 dari orangtua?, suasana perkuliahan; jangan2 lingkungannya tidak sesuai dengan yg diharapkan, biaya, prospek lulusan/kerja, dll. jangan sampai salah pilih,
5. Dari ke 5 pilihan tadi, urutkan dan pilihlah 3 jurusan yang benar2 paling sesuai, kalau bisa komposisinya merupakan pilihan jurusan dari kelompok Campuran (IPC) : 2 pilihan IPA dan 1 pilihan IPS atau 2 pilihan IPS dan 1 pilihan IPA; sehingga pada SPMB amel ikut kelompok IPC so pilihan jurusan lebih banyak (bisa 3 pilihan),
6. Persiapkan strategi menghadapi ujian; Schedule dan pola belajar periode sekarang s.d. menjelang SPMB, persiapan teknis, dll.
Trus, jangan lupa, Amel harus lulus UN! dan untuk dapat lulus UN tentu Amel harus mempersiapkan diri dari sekarang. Kenapa lulus UN? karena kalau gak lulus maka Amel gak bisa kuliah di swasta sekalipun.
Mengenai pilihan Jurusan Sastra, akang mendukung Sastra Prancis Jika :
Amel berencana akan bekerja atau melanjutkan Studi di Perancis dan atau Amel sudah punya koneksi disana sebagai tujuan setelah lulus (misalnya setelah lulus akan ikut saudara bekerja di Perancis)
Jujur, kalau niat milih sastra, akang sendiri lebih menyarankan Jurusan Sastra Inggris, ini berkaitan dengan prospek kerja yang sangat luas dan tidak terbatas; pasar bebas nanti banyak perusahaan/institusi asing masuk Indonesia dan mereka butuh orang Indonesia dengan English yang baik, bisa juga jadi Dosen, dll.
) nah saingannya udah berkurang khan…
) dan b. yang bunuh diri (kemampuannya dibawah Amel). Akang yakin yang milih jurusan sama dengan Amel diantaranya ada yang cuman jadi “MH (mayat hidup hihihi)” n ga bener2 “bermain”; misalnya yg milih jurusannya karena ikut2an temen, karena gengsi, karena disuruh orang lain padahal gak minat, yang gak ada persiapan khusus sama sekali, dll. khususnya mereka yang tidak (mau) tahu tingkat kemampuan diri v.s tingkat persaingan untuk masuk di jur. tsb. Ukur tingkat kemampuan diri melalui Try-Out2 SPMB atau mengerjakan soal2 SPMB tahun2 sebelumnya.
Memang persaingan berat, tapi itu relatif kok. Kalau peserta yang milih Sastra Inggris UNPAD ada 1000 orang maka Amel jangan menganggap bahwa pesaing amel ada 999 (1:999) Ugh… kalau saingannya segitu uangnya mendingan pake beli bakso aja deh!
Mengapa? karena :
1. Setiap jurusan punya daya tampung tertentu; gak mungkin ada jurusan yang hanya menerima 1 mahasiswa, iya gak? he3x… so kalau daya tampungnya 100 aja berarti udah 100:1000 dong ? = 1 : 100 opsssss maksud akang 1:10 (ketahuan neh kalau akang jugak gak suka itung2an
2. Ada pesaing siluman disini! yaitu orang yang jadi saingan Amel tapi belum tentu “memiliki kemampuan rata2 yang lebih dari Amel!” dan khusus yang satu ini jelas mereka dalah orang-orang yang bukan saingan amel; ada dua kriteria bukan saingan amel yaitu : a. yang memiliki kemampuan diatas amel (ini gak usah difikirin, mereka 90% dijamin lulus kok cuma % peserta kriteria ini gak banyak kok!; bahkan biasanya mereka udah nentuin pilihan1 nya di jurusan yang TOP MARKOTOP alias dianggap bergengsi, iya dong ga mungkin lagi Juara2 kelas di SMAN 8 Jakarta atau di SMAN 3 Bandung milih Jurusan Sastra sebagai pilihan pertamanya
3. Persaingan REALISTIS !Kalau dari 10 pesaing tadi (1:10) para a+b=50%-nya, berarti berapa orang tersisa yang benar2 akan bersaing dengan Amel? Jelas PETA persaingan jadi lebih realistis khan???
So, optimis ya, Berikhtiar maksimal dan akhiri dengan sabar-tawakal.
Manuasia hanya berencana dan Tuhanlah yang maha Menentukan.
Kita wajib berusaha dan mudah2an usaha kita berhasil.
Akang do’akan semoga Amel dan teman2 amel dapat sukses pada UN serta Seleksi Masuk PTN tahun ini.
Diterima di Jurusan dan PTN idaman – Sesuai Minat,bakat & kemampuan – Lulus Tepat Waktu dengan prestasi maksimal – dan setelah lulus dapat berkontribusi di masyarakat.
Salam sukses, k@ngadesaputra